|
|
 |
 |
Pramuka Harus Siap Hadapi Tantangan Demi Persatuan Bangsa
01 Agustus 2003, Reporter: RIS
Gerakan Pramuka yang memiliki misi membangun karakter percaya diri, kemampuan dikalangan generasi muda diharapkan bisa mengambil peran sebagai organisasi pendidikan yang mengantarkan anak didik menyelesaikan permasalahan yang dihadapi sesuai dengan aspirasinya.
“Mengingat kebutuhan dan aspirasi generasi muda yang berbeda-beda, pendidikan yang ditawarkan pramuka pun harus lebih bervariasi sesuai dengan kebutuhan di masyarakat,” kata Ketua Umum Himpunan Pandu dan Pramuka Wreda (Hipprada) Prof Dr Haryono Suyono, di sela-sela seminar kepramukaan di Kemah Pembangunan Hipprada dalam rangka Raimuna Nasional VIII di Bumi Perkemahan Rama Sinta, Candi Prambanan, beberapa waktu lalu.
Ditambahkan Haryono Suyono, Negara dan bangsa ini sangat berharap anak-anak remaja dan generasi muda Indonesia dapat mengambil peran dalam upaya ikut menyelesaikan kemelut yang melanda negeri ini yang hingga kini belum kunjung selesai.
Gerakan pramuka memang bukan satu-satunya organisasi yang menawarkan kemampuan itu, tapi gerakan pramuka adalah salah satu dari sedikit yang mempunyai jaringan nasional dan internasional yang mempunyai peluang besar untuk saling membantu sehingga dapat menumbuhkan dampak yang sangat besar.
“Organisasi ini bisa memberikan dukungan solusi untuk bisa meningkatkan kepercayaan diri atas masa depan bangsa yang lebih baik. Karenanya anak-anak, remaja dan dewasa dapat diikutsertakan dalam kegiatan pramuka yang multi face untuk mengembangkan diri sekaligus mempersiapkan diri membantu masyarakat luas,” tukas Haryono Suyono.
Masih mengerucut
Saat ini partisipasi masyarakat masih mengerucut. Yaitu, papar Haryono, di tingkat dasar mencapai 100 persen, sedangkan makin tinggi tingkat pendidikan partispasinya semakin berkurang, di mana tingkat SLTP mencapai 70 persen, SMU 30 persen dan hanya beberapa persen saja yang mencapai perguruan tinggi. Hal ini berarti anak usia sekolah yang tidak mengenyam pendidikan sangat besar jumlahnya. Karenanya, pendidikan berbasis luas harusnya memiliki relevansi untuk mengantarkan anak usia sekolah yang tidak memiliki aktivitas di masyarakat.
Pramuka sebagai wadah pembinaan watak bagi generasi muda harus mengikuti kecenderungan di masyarakat, tidak cukup lagi hanya membina kepribadian saja, tapi lebih dari itu perlu diperkaya dengan berbagai keterampilan. “Bukan saja kemampuan dalam banyak bidang kehidupan melainkan menyiapkan generasi muda yang memiliki dinamika tinggi dalam lapangan pekerjaan,” harapnya.
Gerakan pramuka yang selama ini terkungkung di lingkungan sekolah hendaknya kembali ke habitat, yaitu pramuka yang berbasis luas di masyarakat, terjun ke alam dan membina kemampuan mambangun diri bersama lingkungannya. Gugus depan pramuka yang berpangkalan di sekolah memiliki kelemahan mendasar, berkaitan dengan partisipasi pendidikan yang mengerucut, sehingga hanya anak-anak sekolah yang berlatih pramuka. Padahal, jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang tidak bersekolah.
Sedangkan sebagian besar generasi muda yang tidak besekolah, tidak sempat mendapatkan kalungan sangsaka merah putih dilehernya, jumlah mereka cukup besar, sehingga sangat rentan terhadap berbagai dampak buruk kehidupan berbangsa dan bernegara yang terus bergerak di era reformasi sekarang ini. “Jangan salahkan mereka kalau saat ini banyak yang ingin merdeka, karena sejak dini mereka tidak pernah dikalungi merah putih di lehernya sebagai bentuk rasa nasionalis mereka terhadap bangsa dan negara Indonesia,” tandas Ketua Umum Hipprada ini.
Secara simbolis anak-anak perlu mendapat kalungan merah putih yang bermakna kecintaan dan patriotisme terhadap bangsa dan negaranya. Makna yang terkandung demikian mendalam, menurutnya yaitu bagaimana menanamkan semangat juang yang membara dalam setiap dada anak bangsa agar tumbuh kesadaran membangun bangsa dan negaranya.
Pramuka masa depan
Pendidikan pramuka di masa depan, diharapkan selain memberikan pendidikan watak, kepribadian dan pengenalan pengabdian kepada masyarakat harus mengacu pada pengembangan pribadi secara menyeluruh dan mandiri. Selain itu, kata Haryono Suyono, pengembangan pribadi ini juga harus meliputi bidang-bidang yang snagat luas, mulai dari hal-hal yang snagat sepele dalam kehidupan sehari-hari sampai ke hal-hal yang menyangkut sikap mental dan nilai-nilai dasar yang dianut seseorang sebagai pegangan hidupnya.
“Tawaran yang sangat luas itu, Broad Base Education System, dalam rangka memberikan kemungkinan pilihan yang luas agar tidak ada pemaksaan daripada pembina dan senior untuk mengurui anak didiknya,” kata Haryono Suyono.
Cara-cara belajar dengen mencoba langsung (learning by doing) yaitu mengerjakan sesuatu dengan langsung mempraktekkan sesuatu dengan langsung mempraktekkan, harus dihidupkan dalam suasana wajar. Diharapkan setiap kemajuan yang dicapai bisa menghasilkan tidak saja tanda-tanda kecakapan pramuka, tetapi juga karya nyata yang mempunyai nilai ekonomi.
“Mereka yang berkembang dengan baik dalam kegiatan yang mempunyai nilai ekonomi bisa saja langsung dibimbing menyiapkan diri untuk nantinya bekerja dalam bidang yang menjadi pilihannya,” kata Ketua Umum Hipprada.
Pada kesempatan kemah pembangunan Hipprada, ketua Umum Hipprada yang juga Wakil Ketua I Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono juga menyerahkan secara simbolis buku tabungan kepada sejumlah siswi SMU yang menjadi nasabah BPR Nusamba Banguntapan.
Artikel lainnya
• Yayasan Dharmais Bekali Santri Pondok Pesantren Al Ishlah
|
 |
|
|
|