Rabu 08 September 2010
  Beranda
  Profil
  Visi & Misi
  Ikhtisar Keuangan
  Berita
  Artikel
  Artikel Khusus
  Aktivitas
  Komunitas
  Redaksi
  Buku Tamu
  Kontak Kami
 
  Cari Artikel
 
   
 
   
Peningkatan mutu pendidikan menjadi tanggung jawab siapa?
Pemerintah
Pendidik
Masyarakat
Agus Sulaksono, MBA, Dirut Bank Jatim
MENGEJAR PAHALA DUNIA DAN AKHIRAT

01 Agustus 2003, Reporter: RW
Bank yang belum lama ini memperoleh penghargaan Businees Indonesia Award dari Bank Indonesia pada akhir Juni 2003 lalu dan menjadi Bank Pembangunan Daerah (BPD) terbaik di Indonesia, memang pantas mendapatkan seorang pemimpin yang kualified dalam mengemban tugasnya menjaga amanah uang rakyat. Karena bagaimanapun, mengelola keluar masuknya uang terlebih dalam jumlah yang banyak dan dipergunakan untuk kemaslahatan banyak orang, butuh keahlian sendiri.

Sebelum dilantik menjadi Dirut Bank Jatim menggantikan posisi Syamsoel Arifin yang meninggal dunia Juli 2002, tidak terpikirkan bagi Agus untuk menduduki jabatan level paling tinggi di Bank Jatim dalam waktu relatif singkat. ”Baru tiga tahun menjabat Direktur Pemasaran di Bank Jatim langsung ditarik ke sini,” ujar lelaki kelahiran Kediri, 7 Januari 1953 yang dilantik menjadi Dirut Bank Jatim sejak 14 Nopember 2002 lalu.
Sebelum konsen di Bank Jatim dan terpilih menjadi direktur pemasaran pada tahun 1999, suami Lilik Handayati ini mengawali bisnis perbankan sebagai analis kredit di Bank Niaga Surabaya sejak 1997. Dua tahun kemudian, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Surabaya ini bekerja di Direktorat Jenderal Anggaran Departemen Keuangan, Surabaya.

Setahap demi setahap, jenjang demi jenjang jabatan pun diraih tanpa memakan waktu lama. Pada tahun 1981, lelaki yang selalu berpenampilan elegan ini membuka babak baru bekerja di Bank Negara Indonesia (BNI). Tak kepalang, selama 10 tahun, bapak dari Andy Yudha Asmara, Gama Lisa Agustina, Sigit Yanuariawan ini, meniti karir di BNI dari seorang analis kredit hingga menjadi pemimpin cabang BNI di Tokyo dan Hongkong. Bahkan, ia pun sempat memperoleh gelar Master Business Administration (MBA) dari Universitas Oklahama di USA melalui beasiswa dari Bank BNI.

Adakah pelajaran yang didapat selama mengelola bisnis perbankan di luar negeri? “Sistem perbankan kita kurang menyentuh debitur, sehingga menghasilkan koresponden yang buruk. Tetapi ini menjadi pengalaman baru bagi saya bagaimana membantu mengangkat rakyat kecil agar dapat mengenal dunia perbankan dengan baik,” ujar Agus seraya menambahkan, “nasabah kita kan kebanyakan kelompok usaha kecil dan menengah yang harus terus kita bantu.”

Memberdayakan rakyat kecil
Keseriusan Agus mengangkat taraf hidup keluarga miskin ini terjabar dalam banyaknya program yang bakal diluncurkan Bank Jatim dalam waktu dekat. Berkaitan hal itu, memasuki ulang tahun PT Bank Jatim ke 42, bertepatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus, Bank yang meraih posisi ke-6 dari 500 bank terbaik di Asia dari segi Return on Equity (ROE) hasil survey majalah Asia Week the Financial pada tahun 2001 ini, akan memaksimalkan pemberian kredit pada sektor usaha kecil dan menengah (UKM). “80 persen dari target penyaluran kredit yang sebesar Rp 2,7 triliun akan diprioritaskan untuk para UKM. Karena pada intinya kami sangat fokus pada visi dan misi kami memajukan dan memberdayakan rakyat kecil,” ungkap Agus.

Bagi Agus, bekerja berarti berlomba mencari pahala dunia dan akhirat. “Jadi, selagi kita bisa mengerjakan yang terbaik untuk orang banyak, lakukanlah selagi kita mampu. Karena, belum tentu esok hari kita bisa melakukan yang terbaik untuk mereka,” tegas lelaki yang merasa enjoy dengan dunianya ini seraya menambahkan, ”kebetulan visi dan misi Bank Jatim juga sama dengan visi dan misi saya mengejar pahala dunia dan akhirat.”

Tak takut kredit macet
Bank manapun pasti akan khawatir apabila mengalami kredit macet. Apakah orang nomer satu di Bank Jatim ini tidak khawatir bakal mengalami kerugian atau kredit macet apabila dalam program ke depan Bank Jatim lebih banyak memfokuskan diri pada kelompok-kelompok usaha kecil dan menengah yang juga meliputi para pedagang kaki lima yang memiliki income tidak terlalu besar?

“Saya tidak khawatir memberikan kredit kepada kelompok UKM. Saya lebih khawatir bila memberikan kredit kepada kelompok konglomerat. Pengalaman selama krisis membuktikan bahwa kegiatan ekonomi masyarakat kecil dalam bentuk UKM yang merupakan bagian terbesar dalam kegiatan ekonomi masyarakat dapat lebih bertahan. Daya tahan UKM tersebut tercipta karena mereka tidak banyak memiliki ketergantungan pada faktor eksternal seperti utang dalam valuta asing dan bahan baku impor dalam melakukan kegiatannya,” paparnya tegas.

Dengan keunggulan yang spesifik antara lain berupa kandungan lokal yang besar dalam kegiatan produksi, orientasi pemasaran di dalam negeri, serta harga yang terjangkau konsumen, UKM merupakan bagian yang sangat penting dalam perekonomian nasional. "Melihat pada potensi UKM ini maka salah satu strategi pemulihan ekonomi nasional yang ditempuh pemerintah dewasa ini adalah memberdayakan UKM," jelasnya lagi.

Selain itu, ketertarikan Bank Jatim membantu para UKM, ungkap Agus, karena melihat mereka lebih memiliki kejujuran, dan motivasi untuk maju. Tapi kelemahan mendasar justru terjadi pada kemampuan manajemen. Diakuinya, penyaluran dana 80 persen dari Bank Jatim khusus untuk pemberdayaan UKM berbentuk kredit, bukanlah satu-satunya cara untuk memajukan UKM.

“Untuk memajukan usaha itu harus ada kerja sama dan koordinasi yang baik antara bank dan pemerintah daerah, khususnya dalam hal mengembangkan pasar UKM ini,” jelasnya yang diwawancarai Rahmawati dari Majalah GEMARI, belum lama ini. “Karena itu, seyogyanya pemerintah daerah maupun bank pelaksana pemberi kredit harus terus meningkatkan koordinasinya sehingga pemberian kredit dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi pengembangan usaha di masa datang.” Saat ditanya tentang tingginya bunga kredit untuk kelompok UKM, Agus membantah bila ada yang beranggapan bahwa kredit yang diberikan kepada kelompok UKM adalah dengan bunga besar. Bank Jatim telah mengambil kebijakan, bunga kredit untuk kelompok UKM ini hanya 1 persen per bulan. "Tidak benar kalau bunga kredit untuk kelompok UKM itu besar," cetusnya.

Guna mengatasi masalah kredit macet di masyarakat, Bank Jatim telah lama melaksanakan sistem jemput bola yang ternyata mendapat respon cukup baik dibanding hanya melakukan bagi-bagi brosur yang pernah dilakukan sebelumnya. “Buktinya, hingga saat ini, angka kredit macet di Bank Jatim relatif kecil karena tak mencapai 0,01 persen, “ cetus direktur bank yang memiliki kerja sama dengan Yayasan Dana Sejahtera Mandiri, khususnya dalam penyaluran Kredit Pundi Kencana yang banyak digemari nasabahnya.

Artikel lainnya
Masyarakat Luar Malang pun Gemari Krupuk Puli
Damandiri Akan Suntik UPPKS
Pramuka Harus Siap Hadapi Tantangan Demi Persatuan Bangsa
Yayasan Dharmais Bekali Santri Pondok Pesantren Al Ishlah

  Username
  @indra.or.id
  Password
 
 
RUSMELANI SAIN MASUK FAKULTAS KEDOKTERAN
GENERASI MUDA MENGGELAR MASA DEPANNYA
MEMBURU DUKUNGAN BELAJAR SEJAK DINI
PEMBERDAYAAN DAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO
MENJARING SISWA BERPRESTASI SECARA DINI
:: Selengkapnya ::


13714