Jum'at 24 Januari 2014
  Beranda
  Profil
  Visi & Misi
  Ikhtisar Keuangan
  Berita
  Artikel
  Artikel Khusus
  Aktivitas
  Komunitas
  Redaksi
  Buku Tamu
  Kontak Kami
 
  Cari Artikel
 
   
 
   
Peningkatan mutu pendidikan menjadi tanggung jawab siapa?
Pemerintah
Pendidik
Masyarakat
POKOK-POKOK SAMBUTAN PADA PERTEMUAN BIDAN - IKATAN BIDAN INDONESIA DI SEMARANG
05 Januari 2005, Reporter: doni
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ibu Ketua IBI Jawa Tengah yth,
Para Anggota IBI yth,
Hadirin yang berbahagia,

Dengan diiringi puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa perkenankanlah saya atas nama pribadi dan atas nama Yayasan Damandiri mengucapkan terima kasih atas undangan untuk menghadiri pertemuan Seminar dan Rakerda IBI Jawa Tengah pada hari ini. Dalam suasana duka karena musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Sumatra Utara dan daerah-daerah lain, marilah kita menundukkan kepala mohon kehadirat Allah, Tuhan Yang Maha Esa, kiranya diampunkan segala dosa-dosa dan kesalahan kita, dan kepada saudara-saudara kita yang dipanggil menghadapNya diberikan tempat yang sebaik-baiknya di sisiNya.

Bersamaan dengan suasana Idul Fitri dan Tahun Baru 2005 perkenankanlah pula dalam kesempatan ini saya mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri dan selamat Tahun Baru dengan doa semoga di tahun 2005 yang penuh dengan cobaan ini kita semua diberikan limpahan rahmat dan hidayah dari Tuhan Yang Maha Kuasa untuk dapat mengarunginya dengan selamat dan sejahtera.

Hadirin yang berbahagia,

Berkenaan dengan pertemuan bidan dalam suasana tahun baru sekarang ini, saya menyambutnya dengan penuh perhatian. Pertama-tama saya sangat sepakat dengan Ibu Ketua IBI Jawa Tengah bahwa pelayanan untuk para ibu hamil dan melahirkan, yaitu pelayanan untuk meningkatkan kemampuan hidup lebih sehat, pertama-tama harus dilayani dengan mutu pelayanan yang sebaik-baiknya. Pelayanan yang bermutu akan menjadi daya tarik yang luar biasa bagi ibu-ibu yang belum tersentuh pelayanan bidan untuk berbondong-bondong mengenal dan mengikuti ajakan ibu bidan untuk hidup sehat. Pelayanan itu terutama, dan yang pertama, harus kita berikan kepada ibu-ibu pasangan usia subur yang belum mengandung, yang mengandung, dan juga yang sedang menyusui anaknya. Ibu-ibu muda, yang belum menikah sekalipun, harus mulai mengenal bidan yang ada di dekatnya, belajar mempersiapkan diri dengan mengenal kesehatan reproduksi, memahami keadaan dirinya, mengkonsumsi makanan yang bisa meningkatkan kesehatan reproduksi, serta merangsang pertumbuhan dan kesehatan sistem reproduksinya sehingga pada saat dibutuhkan nanti benar-benar siap membawa dan memelihara janin yang akan dikandungnya.

Karena itu saya sepakat pula untuk bekerja keras meningkatkan mutu bidan agar minimal memenuhi syarat-syarat profesi yang tangguh dengan memenuhi secara sungguh-sungguh sertifikasi yang diharuskan oleh organisasi profesi dan lembaga pemerintah yang berwewenang. Yayasan Damandiri dalam segala keterbatasannya akan ikut mengembangkan advokasi agar supaya lembaga-lembaga pemerintah yang mempunyai wewenang lebih besar dapat memberikan dorongan dan dukungan terhadap upaya peningkatan mutu bidan tersebut.

Lebih lanjut daripada itu, mutu saja tidak banyak gunanya untuk rakyat banyak. Disamping mutu pelayanan yang harus tidak henti-hentinya ditingkatkan, cakupan ibu-ibu usia subur yang dilayani harus pula selalu mendapat perhatian. Pelayanan bermutu yang hanya menguntungkan segelintir ibu-ibu yang sadar, mampu dan mudah menjangkau pelayanan kesehatan, akan sangat tidak adil dan membuat jarak ketidak adilan yang menyakitkan. Ketidak adilan semacam ini akan membuat jurang perbedaan yang makin mendalam dan bisa berakhir dengan saling membenci dan tidak percaya serta merobek-robek persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu prioritas yang diberikan oleh Yayasan Damandiri, kecuali memberi dukungan terhadap peningkatan mutu pelayanan reproduksi, adalah mendorong ditingkatkannya cakupan yang diukur dari prosentase pasangan usia subur yang mendapat pelayanan kesehatan reproduksi.

Untuk meningkatkan cakupan tersebut saya ajak IBI untuk mengajak seluruh anggotanya mengembangkan advokasi komprehensif sebagai suatu gerakan masyarakat. Advokasi itu tidak saja ditujukan kepada pasangan usia subur paritas rendah secara langsung, tetapi melalui jalur-jalur yang luas dan berdampak jangka panjang. Jalur yang pertama adalah mengajak para anggota IBI untuk mengadakan gerakan masuk ke sekolah dini usia dengan memberikan petunjuk tentang gizi anak-anak balita. Anak-anak dini usia tersebut biasanya diantar oleh ibunya yang masih sangat subur, sehingga dengan memberikan petunjuk tentang gizi balita, otomatis kita merangsang perkenalan dengan orang tuanya yang masih sangat subur. Kepada ibunya bisa diberikan informasi tentang masalah reproduksi sehat dan sejahtera.

Jalur yang kedua adalah dengan bersama-sama lembaga dan instansi lain mengembangkan program dan kegiatan reproduksi sejahtera untuk anak-anak usia SMA, baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah. IBI dan anggotanya, mungkin saja bersama-sama PKK setempat, mengadakan berbagai kegiatan lapangan tentang reproduksi sehat sejahtera. Di sekolah mengadakan kursus-kursus atau ceramah tentang kesehatan reproduksi, proses kehamilan, perawatan kehamilan, melahirkan, menyusui anak, imunisasi dan sebagainya. Anak-anak remaja itu tidak saja harus memahami ilmu dan kesulitannya, tetapi harus diajak untuk menempatkan dirinya sebagai calon bapak dan calon ibu yang harus bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa dan anak-anak bangsanya.

Jalur yang ketiga, para bidan anggota IBI bisa menggalang kerjasama dengan ibu-ibu PKK untuk mengadakan advokasi dan kursus pematangan ibu-bapak calon penganten, khususnya tentang pengetahuan kesehatan reproduksi, proses kehamilan, proses merawat kehamilan, dan lain sebagainya.

Jalur yang keempat, para bidan anggota IBI dapat menggalang kerjasama dengan PKK dan organisasi wanita lainnya untuk advokasi dan kursus pemeliharaan keindahan dan stabilitas perkawinan kepada pasangan penganten muda, baik yang belum mempunyai anak, atau yang sudah mempunyai anak, dengan pendalaman tentang rahasia kebahagiaan rumah tangga dalam merawat cinta kasih dan hubungan suami isteri, pemeliharaan anak balita, dan pemeliharaan hubungan antara anak, orang tua, sesama anak, dan antara anak dengan kerabat dekatnya. Advokasi ini sangat penting agar supaya kegagalan karena tidak ada komunikasi tentang hal-hal yang kadang bisa sangat tabu dalam kehidupan suami isteri dalam tahun-tahun awal tidak diakhiri dengan perceraian, tetapi dikoreksi secara ilmiah.

Jalur yang kelima yaitu dengan menggelar seminar kecil-kecilan bersama punggawa pedesaan untuk menggiring dan meningkatkan komitmen mereka terhadap usaha penurunan resiko kehamilan dan upaya mengurangi tingkat kematian karena mengandung dan melahirkan. Seminar semacam ini biasanya akan marak apabila didatangkan pembicara lain yang mungkin saja seorang dokter yang merupakan referal dari bidan yang ada di desa.

Lima jalur utama tersebut diatas merupakan jalur strategis yang apabila dijalani mempunyai dampak berjangka panjang menghasilkan “nasabah” bidan yang tidak akan pernah ada putusnya. Kalau para bidan tidak mau bekerja keras dengan proses sosialisasi tersebut, mustahil tumbuh budaya baru pemeriksaan dini ibu hamil dan melahirkan dimana yang menunjukkan bahwa rakyat Indonesia bisa menurunkan tingkat kematian ibu hamil dan melahirkan dengan baik. Para bidan tidak akan bisa mengembangkan diri menjadi profesi yang dihormati dan dihargai masyarakatnya.

Bagian lain yang ingin saya soroti adalah peningkatan sarana pelayanan. Karena keterbatasan yang ada pada pemerintah, sejak beberapa waktu yang lalu, Yayasan Damandiri telah berusaha membantu dengan mengembangkan gerakan bidan sejahtera yang mandiri. Gerakan ini memerlukan pelayanan dengan tempat dan peralatan yang memadai. Untuk itu melalui bank-bank setempat, misalnya Bank BPD dan Bank Bukopin, telah disepakati untuk memberikan pelayanan kredit untuk bidang sejahtera dengan prosedur komersial yang disederhanakan. Di Jawa Tengah Pengurus IBI Propinsi akan bertindak sebagai fasilitator dan secara umum menjadi salah satu pemegang agunan untuk menjamin bidan yang ingin menjadi nasabah mendapat kemudahan dari bank yang dipilihnya. Para bidan sendiri harus bisa meyakinkan bank pilihannya bahwa yang bersangkutan bisa membayar cicilan dan bunga pinjaman tepat waktu agar kelancaran nasabah lain dapat dijamin.

Berbeda dengan bantuan hibah, dukungan kredit bidan ini mengandung kewajiban mencicil dan membayar bunga tepat waktu karena dana yang dibayarkan akan digulirkan untuk peminat lain yang jumlahnya relatif banyak. Dengan cara bergulir tersebut biaya untuk modal atau dana yang dapat dipinjam menjadi relatif murah dan dapat terjangkau oleh anggota IBI. Dukungan kredit ini tidak mengikat pemerintah daerah atau instansi pemerintah lainnya, sehingga kalau instansi pemerintah ingin membantu, dengan senang hati Bank BPD atau Bank Bukopin bisa menurunkan bunga pinjaman atau memperpanjang waktu cicilan.

Para bidan yang membuka praktek dapat pula bertindak sebagai advokator untuk para ibu yang datang kepadanya. Kegiatan ini akan menghasilkan ibu-ibu langganannya mempunyai kegiatan ekonomi mikro, kecil dan menengah yang akhirnya menghasilkan keluarga yang lebih sejahtera yang dengan mudah mampu membayar pelayanan kebidanan atau kesehatan reproduksi yang diambilnya dari bidan sejahtera atau bidan mandiri.

Kegiatan promosi untuk mendukung kegiatan ekonomi mikro, kecil dan menengah untuk kepentingan para langganan bidan tersebut dapat dilakukan dengan memperkenalkan para ibu yang datang ke setiap bidan kepada bank yang juga menjadi langganan atau bank tempat menyimpan uangnya, yaitu Bank BPD atau Bank Bukopin setempat. Kegiatan yang nampaknya tidak ada kaitannya tersebut sangat erat dengan arus yang akan datang pada setiap bidan di masa depan.

Kegiatan promosi itu sekaligus akan merangsang setiap bidan untuk bersikap, bertutur kata, bertindak dengan bijaksana menyesuaikan dengan image yang telah digambarkannya sebagai pelayan masyarakat yang bermutu dan terpercaya. Dengan demikian pemeliharaan mutu dan pelayanan bidan menjadi sesuai antara kata dan perbuatan setiap bidan dalam melayani ibu-ibu dan remaja atau anak-anak yang datang kepadanya untuk mendapatkan pelayanan yang terbaik.

Demikianlah beberapa hal yang kiranya dapat menambah keakraban kita dengan para ibu muda, ibu hamil dan melahirkan, anak-anak remaja, dan anak-anak dibawah umur lima tahun yang hampir pasti selalu diantar oleh ibu atau orang tuanya. Semoga beberapa catatan ringkas ini ada manfaatnya untuk kita sekalian.

Wakil Ketua I Yayasan Damandiri,




Prof. Dr. Haryono Suyono

Artikel lainnya
KEGIATAN WAKIL KETUA I YAYASAN DAMANDIRI January 2005 (Prof DR Haryono Suyono)
PROGRAM BANTUAN BELAJAR MANDIRI SISWA SMA/SMK/MA DAN BANTUAN BAGI MAHASISWA PTN
KEGIATAN WAKIL KETUA I YAYASAN DAMANDIRI January 2005 (Prof DR Haryono Suyono)
Bagaimana Memperoleh KONTRASEPSI MANDIRI
Kerja Keras Bangun Kemandirian Kelompok “Kerupuk” Sulin Mekar

 
Baca Komentar Isi Komentar
Kirim Berita Cetak Berita
  Username
  @indra.or.id
  Password
 
 
RUSMELANI SAIN MASUK FAKULTAS KEDOKTERAN
GENERASI MUDA MENGGELAR MASA DEPANNYA
MEMBURU DUKUNGAN BELAJAR SEJAK DINI
PEMBERDAYAAN DAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO
MENJARING SISWA BERPRESTASI SECARA DINI
:: Selengkapnya ::


318530