|
|
 |
 |
PEMBERDAYAAN DAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO
18 Februari 2005, Reporter: Prof DR Haryono Suyono
Tanggal 15 Januari 2003, minggu lalu, Yayasan Dana Sejahtera Mandiri atau Damandiri genap berusia 7 (tujuh) tahun. Selama tujuh tahun itu Yayasan Damandiri telah ikut membantu upaya peningkatan mutu sumber daya manusia melalui dukungan bea siswa dan bea belajar mandiri bagi anak-anak keluarga kurang mampu. Disamping itu Yayasan juga memberikan dukungan kepada keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I untuk belajar menabung dan mulai belajar mengelola usaha ekonomi produktip.
Dukungan bagi anak-anak SD dan SLTP yang diwujudkan dalam bentuk beasiswa disalurkan melalui Lembaga GN-OTA sejak enam tahun yang lalu. Dalam empat tahun terakhir ini telah dibantu tidak kurang dari 333.333 siswa tingkat SD dan SLTP anak-anak dari keluarga kurang mampu. Dukungan semacam juga diberikan kepada para siswa tingkat SMU, SMK dan MA untuk mengikuti ujian seleksi memasuki perguruan tinggi negeri dan membayar biaya SPP kalau bisa diterima di perguruan tinggi pilihannya. Program ini merupakan kerjasama dengan Yayasan Supersemar dan Panitia Pusat UMPTN Pusat yang merupakan forum kerjasama para Rektor Perguruan Tinggi Negeri seluruh Indonesia. Program itu dilanjutkan berupa bantuan SPP untuk mahasiswa semester ke-7 dari universitas terpilih dari kawasan timur Indonesia. Berdasarkan laporan, sampai dengan bulan Oktober 2002, dukungan itu telah dinikmati oleh 3.155 mahasiswa.
Disamping dukungan untuk melanjutkan pendidikan tinggi serta dukungan untuk para mahasiswa, sadar bahwa tidak semua pelajar SMU, SMK dan MA tidak seluruhnya bisa melanjutkan pada pendidikan tinggi, Yayasan juga memberikan dukungan kepada para remaja itu untuk mempersiapkan diri menjadi keluarga yang mandiri. Dukungan itu diwujudkan dalam bentuk tabungan bea belajar mandiri (BBM). Dukungan itu diwujudkan dalam bentuk Tabungan Belajar Mandiri yang hanya dapat diambil untuk melanjutkan pendidikan atau untuk modal hidup mandiri. Dalam dua tahun terakhir ini dukungan itu telah disalurkan kepada 2400 siswa dari kawasan timur Indonesia.
Yayasan juga memberikan dukungan kepada anak-anak DO dari keluarga atau simpatisan keluarga nasabah PUNDI yang mempunyai usaha mandiri yang berhasil atau yang rajin membayar cicilan pinjamannya. Usaha ini merupakan percobaan yang diberikan kepada sekitar 1000 anak-anak remaja DO di desa terpilih. Dukungan dana itu dipergunakan untuk mengikuti kursus ketrampilan atau magang pada usaha yang bisa mengangkatnya menjadi karyawan dengan penghasilan memadai.
Dukungan pemberdayaan keluarga diawali dengan gerakan sadar menabung, yaitu melatih keluarga kurang mampu untuk belajar menabung. Untuk ikut latihan setiap keluarga diberi “pancingan” tabungan awal untuk menabung pada “Tabungan Keluarga Sejahtera” atau Takesra sebesar Rp. 2000,-. Latihan yang bersifat nasional dan dimulai pada tanggal 2 Oktober 1995 tersebut pada akhir bulan September tahun 2002 diikuti oleh 13.143.705 keluarga dengan jumlah tabungan sebesar Rp. 209.790.618.893,-. Tabungan itu tersimpan rapi pada Bank BNI.
Para penabung Takesra, bergabung dalam hampir 550.000 kelompok. Kepada mereka diberi kesempatan memanfaatkan kredit Kukesra untuk belajar usaha ekonomi produktip dalam lingkungan kelompoknya. Jumlah keluarga yang memanfaatkan kredit Kukesra sampai akhir September 2002 ada sebanyak 10.128.738 keluarga dengan serapan kredit sebesar Rp. 1.799.565.140.000,-. Kepada yang berhasil diberikan kesempatan mengembangkan usahanya dengan modal yang lebih besar.Tidak kurang dari 147.867 keluarga yang tergabung dalam 9.560 kelompok telah ikut dalam program ini dengan serapan kredit sebesar Rp. 164.425.400.000,-.
Kelompok-kelompok yang berhasil dari upaya-upaya tersebut diatas selanjutnya dilatih untuk terjun langsung dalam upaya dengan dukungan dana yang berasal dari kredit mikro yang tersedia di pasar melalui berbagai Bank atau lembaga keuangan mikro yang ada. Sejak tiga tahun lalu, kelompok yang berhasil diperkenalkan pada Program PUNDI yang dilayani oleh Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Nusamba di 20 kabupaten di Jawa dan Bali. Pelayanan BPR Nusamba itu sekaligus menjadi salah satu pilot proyek untuk mendukung upaya pemberdayaan ekonomi keluarga dalam skala mikro dengan sistem menjemput bola dan mandiri. Setiap nasabah “tidak dipaksa” menerima pelayanan BPR Nusamba karena bunga rendah, atau karena dibiarkan tidak membayar pinjaman, tetapi adalah karena pelayanan jemput bola yang diberikan oleh para pelaksana lapangan sangat simpatik serta mempermudah kehidupan mereka dalam urusan perbankan.
Pelayanan BPR disederhanakan demikian rupa sehingga cakupan masyarakat yang dapat menikmati bantuan kredit bertambah banyak. Prosedur dan urusan-urusan perbankan yang rumit ditangani oleh bank, sehingga tidak menjadi penyulit untuk nasabah yang sederhana. Seluruh kekuatan BPR diperbantukan untuk pemberdayaan nasabah agar mereka makin kompetitif. Pendekatan itu membawa hasil yang baik. Sampai dengan bulan Desember 2002, BPR Nusamba telah menyalurkan kredit PUNDI sebesar Rp. 39,5 milyar untuk 17.918 nasabah atau rata-rata per nasabah menerima bantuan kredit sebesar Rp. 2,2 juta.
Dengan keberhasilan pilot proyek itu, pelayanan PUNDI diperluas dengan mengikut sertakan BPR Artha Huda Abadi di Pati, BPR YIS di Solo, Bank Pembangunan Daerah (BPD) di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Bank Bukopin dengan cabang-cabangnya di kawasan timur Indonesia.
Bekerjasama dengan HIPPRADA (Himpunan Pandu dan Pramuka Wreda), pada tahun 2003 ini akan diperluas Gerakan Sadar Menabung yang telah berhasil “melatih” lebih dari 13 juta keluarga, dengan mengajak anak-anak muda usia SMU, SLTP dan SD, yang umumnya tergabung dalam Gerakan Pramuka. Mudah-mudahan dengan latihan-latihan itu akan muncul generasi baru yang sejak dini menghayati upaya menabung untuk masa depan yang lebih sejahtera. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Pengamat Masalah Sosial Kemasyarakatan)-Pengantar-Damandiri-20Jan2003.(A1/B2/D1)
Artikel lainnya
• MENJARING SISWA BERPRESTASI SECARA DINI
• MEMPERLUAS PEMBERDAYAAN DI NTT
• MERDEKA UNTUK BERPARTISIPASI
• INVESTASI UNTUK MANDIRI
• MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT KURANG MAMPU PERKOTAAN
|
 |
|
|
|