Rabu 08 September 2010
  Beranda
  Profil
  Visi & Misi
  Ikhtisar Keuangan
  Berita
  Artikel
  Artikel Khusus
  Aktivitas
  Komunitas
  Redaksi
  Buku Tamu
  Kontak Kami
 
  Cari Artikel
 
   
 
   
Peningkatan mutu pendidikan menjadi tanggung jawab siapa?
Pemerintah
Pendidik
Masyarakat
MEMBURU DUKUNGAN BELAJAR SEJAK DINI
18 Februari 2005, Reporter: Prof DR Haryono Suyono
Setelah selama empat tahun Yayasan Damandiri, bekerja sama dengan Yayasan Supersemar dan Panitia Pusat Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) tidak berhasil menyalurkan seluruh rancangan bantuan belajar mandiri kepada para siswa dan mahasiswa anak keluarga kurang mampu, mulai bulan Maret 2002 yang lalu Yayasan Damandiri menempuh pendekatan baru untuk menolong anak-anak dari keluarga kurang mampu itu.

Sungguh sangat ironis, kebutuhan beasiswa melimpah, komitmen tinggi, tetapi kenyataannya banyak anak keluarga kurang mampu memang tidak bisa mencapai prestasi yang memadai untuk lulus saringan yang diberlakukan secara umum untuk seluruh siswa. Anak-anak keluarga kurang mampu, yang dalam banyak hal sukar bersaing dengan anak-anak keluarga yang lebih mampu akan terlepas dari saringan itu dan tidak bisa melanjutkan pendidikan pada perguruan tinggi negeri. Memang berhenti sekolah, bukan karena otak tidak mampu, tetapi karena waktu dan kesempatannya sangat terbatas. Mereka tidak bisa membeli buku yang harus dibacanya di rumahnya. Bahkan kalau toh bisa meminjam buku dari teman-temannya mereka tidak bisa membaca di malam hari karena fasilitas listrik dan penerangan lain di rumahnya tidak memadai. Anak-anak itu, yang mungkin saja dengan kesempatan yang lebih baik bisa menjadi lebih menonjol, terpaksa tidak melanjutkan sekolah ke pendidikan yang lebih tinggi karena keterbatasan tersebut.

Mungkin jumlahnya ribuan, mungkin pula ratusan tibu, tetapi selama lima tahun terakhir Yayasan Damandiri tidak berhasil membantu mereka menempuh ujian masuk perguruan tinggi Negeri karena berbagai alasan. Salah satu alasan yang terbesar adalah karena kemampuan anak-anak itu sangat jauh dibawah standar yang diharuskan untuk lulus dan memasuki salah satu fakultas yang disediakan oleh lembaga pendidikan tinggi yang ada itu. Sekali tidak diterima di perguruan tinggi Negeri, hampir pasti mereka tidak bisa memasuki perguruan tinggi swasta karena biaya untuk perguruan tinggi swasta itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan biaya untuk perguruan tinggi negeri.

Selama lima tahun terakhir Yayasan Damandiri menyediakan dana untuk diberikan kepada siswa SMU anak keluarga kurang mampu yang semenjak kelas I telah menunjukkan tanda-tanda dengan nilai matematika dan bahasa Inggris menonjol untuk bisa melanjutkan sekolah pada Perguruan Tinggi Negeri. Dari jatah sebanyak 3.000 siswa setiap tahun tidak pernah tercapai, angka tertinggi yang beruntung dapat ditolong adalah sebanyak 2.800 siswa dalam tahun 2001 yang lalu. Biarpun akhirnya banyak juga dari siswa itu yang lulus ujian saringan, tetapi setiap tahun tidak lebih dari 800 siswa saja yang mampu tertolong untuk mendapat dukungan biaya SPP sampai lulus menjadi sarjana di perguruan tinggi pilihannya.

Dari pengalaman menyedihkan itu, semenjak bulan Maret 2002 Yayasan Damandiri memberikan dukungan Biaya Belajar Mandiri (BBM), yaitu dengan memilih diantara siswa-siswa SMU, khususnya wanita, anak keluarga kurang mampu, yang mempunyai prestasi yang menonjol. Kepada setiap anak yang terpilih diberikan dukungan biaya belajar mandiri sebanyak Rp. 300.000,- berupa buku tabungan yang dapat diambil untuk biaya menempuh unjian saringan di tahun 2002, tepatnya pada awal bulan Juli ini. Apabila anak yang bersangkutan tidak berminat untuk mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru perguruan tinggi negeri atau tidak berminat melanjutkan pendidikan pada perguruan tinggi, maka paket dana belajar mandiri itu dapat pula diambil setelah lulus SMU, SMK atau MA untuk membuka usaha secara mandiri.

Sesuai petunjuk pemerintah dana yang disediakan itu untuk saat ini hanya terbatas untuk siswa SMU, SMK dan MA dari kawasan Indonesia bagian timur. Untuk masa dari Januari-Juni 2002 diperuntukkan siswa kelas III, perempuan dan menonjol di kelasnya dibandingkan dengan siswa lain dari golongan keluarga kurang mampu yang sama. Untuk periode dari bulan Juli – Desember 2002 anak-anak dari kelas I, kelas II dan kelas III dapat diikut sertakan dalam pemilihan ini.

Ikut sertanya siswa kelas I, kelas II dan juga kelas III dalam program ini semata-mata dengan harapan agar mereka mempunyai perhatian yang tinggi terhadap peningkatan mutu pendidikan dari kelas yang sangat dini. Dengan demikian apabila sejak dini telah memberikan perhatian terhadap peningkatan mutu pendidikannya, diharapkan kesempatan untuk diterima pada perguruan tinggi negeri atau untuk melanjutkan berusaha secara mandiri lebih tinggi lagi.

Pemberian dukungan paket dana belajar mandiri ini tetap sama yaitu melalui beberapa Bank yang menjadi mitra Yayasan Damandiri, antara lain adalah Bank Pembangunan Daerah di masing-masing Kabupaten, Bank Bukopin dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Nusamba di 20 cabangnya di seluruh kawasan timur Indonesia. Yayasan Damandiri juga memberi kesempatan kepada para petugas Bank untuk ikut duduk dalam Panitia Pemberian paket di tingkat kabupaten agar segera setelah anak-anak itu terpilih dana dalam bentuk buku tabungan dapat secara langsung di serahkan kepada siswa yang beruntung tersebut.

Untuk masyarakat luas yang ingin berpartisipasi, Yayasan Damandiri memberi kesempatan semua pihak untuk secara langsung menghubungi Bank setempat dengan mengisi buku tabungan dari siswa yang ada itu secara langsung di kantor Bank pelaksana di lapangan. Tidak ada petugas yang ditugasi khusus untuk mengumpulkan uang untuk Yayasan atau untuk diteruskan kepada Bank pelaksana. Mereka yang berminat membantu usaha gerakan bersama ini dipersilahkan langsung berhubungan dengan bank di kabupaten yang dimaksudkan. Para penyumbang dapat pula ikut menyerahkan sumbangannya secara langsung dalam upacara yang diadakan setiap bulan oleh masing-masing Tim Kabupaten yang ada di setiap kabupaten atau kota di kawasan timur Indonesia. Dengan partisipasi masyarakat yang makin luas itu diharapkan bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu akan mendapat kesempatan memperoleh jaminan belajar mandiri atau hidup mandiri secara dini. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Pengamat Masalah Sosial Kemasyarakatan)-Pengantar-Belajar-2972002

Artikel lainnya
PEMBERDAYAAN DAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO
MENJARING SISWA BERPRESTASI SECARA DINI
MEMPERLUAS PEMBERDAYAAN DI NTT
MERDEKA UNTUK BERPARTISIPASI
INVESTASI UNTUK MANDIRI

  Username
  @indra.or.id
  Password
 
 
RUSMELANI SAIN MASUK FAKULTAS KEDOKTERAN
GENERASI MUDA MENGGELAR MASA DEPANNYA
MEMBURU DUKUNGAN BELAJAR SEJAK DINI
PEMBERDAYAAN DAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO
MENJARING SISWA BERPRESTASI SECARA DINI
:: Selengkapnya ::


13715