Rabu 08 September 2010
  Beranda
  Profil
  Visi & Misi
  Ikhtisar Keuangan
  Berita
  Artikel
  Artikel Khusus
  Aktivitas
  Komunitas
  Redaksi
  Buku Tamu
  Kontak Kami
 
  Cari Artikel
 
   
 
   
Peningkatan mutu pendidikan menjadi tanggung jawab siapa?
Pemerintah
Pendidik
Masyarakat
RUSMELANI SAIN MASUK FAKULTAS KEDOKTERAN
18 Februari 2005, Reporter: Prof DR Haryono Suyono
Kisah seorang Rusmelani Sain yang berasal dari suatu Desa di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, masuk Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin di jaman merdeka ini sesungguhnya adalah suatu peristiwa biasa yang tidak perlu menjadi judul suatu artikel di suatu surat kabar nasional. Tetapi Rusmelani yang satu ini adalah kasus istimewa. Dia adalah anak seorang janda yang pekerjaan hariannya adalah menjahit dan ayahnya telah meninggal dunia. Rusmelani adalah seorang anak yang ulet dan pandai sehingga semenjak kelas I SMU selalu menempati ranking teratas di kelasnya biarpun kalau sore dan malam hari membantu kerja keras ibunya dirumah dengan jahitan dan kerja apa saja yang ada.

Rusmelani yang tekun itu minggu lalu menerima anugerah dari Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri) berupa tabungan Bea Belajar Mandiri (BBM) sebesar Rp. 300.000,- karena terpilih dari ribuan anak keluarga kurang mampu dari Kabupaten Pangkep di Sulawesi Selatan. Tabungan itu diserahkan oleh Pimpinan Yayasan Damandiri dihadapan Bupati Pangkep yang lengkap disaksikan oleh Muspida yang melihatnya dengan perasaan yang sangat mengharukan. Sesungguhnya anugerah itu tidak banyak artinya karena disamping dia sendiri ada sekitar 15 siswa lain yang sama beruntungnya mendapat anugerah yang sama. Dan anugerah itu diberikan setiap bulan semenjak bulan Maret tahun ini kepada anak-anak keluarga kurang mampu yang mempunyai prestasi menonjol seperti Rusmelani itu.

Tetapi peristiwa hari itu sungguh luar biasa dan sangat mengharukan karena pada saat yang sama Rusmelani menerima pemberitahuan dari Universitas Hasanuddin bahwa dirinya diterima sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran tanpa harus menempuh tes seperti layaknya siswa yang sangat unggul. Dengan mata berkaca-kaca karena haru dia memberitahukan kepada tim pemantau akan peristiwa itu disertai rasa was-was siapa nanti yang akan membiayai kuliahnya selama menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran. Pimpinan Yayasan Damandiri yang hadir di peristiwa yang sangat mengharukan itu langsung mengambil prakarsa dan menyampaikan kepada Bupati Pangkep dan jajarannya bahwa dengan ijin Bupati maka mahasiswi Rusmelani akan dijamin biaya SPP-nya sampai tamat di Fakultas Kedokteran. Kepadanya juga akan diusahakan untuk mendapatkan beasiswa dari Yayasan Supersemar di Jakarta untuk keperluan sumbangan biaya sehari-hari seadanya.

Dengan pengumuman itu seluruh peserta pertemuan yang dihadiri oleh para Kepala Sekolah SMU, SMK dan MA dari seluruh Pangkep merasa sangat terharu dan secara spontan bertepuk tangan keharuan menyetujui langkah spontan dari Yayasan dan Bupati serta seluruh pimpinan daerah yang hadir pada waktu itu ! Siapa sangka anak janda seorang penjahit sederhana dalam alam kemerdekaan yang penuh rahmat ini akan memasuki bangku kuliah di Fakultas Kedokteran di Universitas Hasanuddin dengan dukungan bekal dan kepercayaan yang demikian besarnya karena Rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan karena ketekunan dan dedikasinya pada sekolah yang ditekuninya.

Sulawesi Selatan Menggelar Program Belajar Mandiri

Peristiwa diatas terjadi karena semenjak bulan Maret yang lalu, bekerja sama dengan Yayasan Damandiri di Jakarta, Sulawesi Selatan ikut serta menggelar upaya peningkatan mutu pendidikan dengan menggelar Program Belajar Mandiri. Program ini merupakan suatu program peningkatan mutu pendidikan untuk SMU, SMK dan Madrah Aliyah (MA) yang diselenggarakan oleh Yayasan Damandiri untuk Kawasan Indonesia Timur. Program ini diselenggarakan di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Selatan.

Program ini intinya adalah bahwa dalam suatu sistem pendidikan yang berbasis luas, BBE, Broad Based Edecation, setiap siswa dirangsang untuk siap mandiri. Dalam merangsang setiap siswa untuk siap mandiri itu Yayasan Damandiri sangat prihatin karena anak-anak keluarga kurang mampu tidak bisa bersaing dengan teman-teman lainnya yang sebaya untuk mempersiapkan diri secara wajar dan dengan harapan masa depan yang sama gemilangnya. Mereka tidak yakin bahwa masa depannya akan berakhir tanpa bekal yang cukup untuk mandiri baik dalam hal ilmu maupun kemampuan awal untuk bekal membangun keluarga mandiri itu.

Oleh karena itu Yayasan Damandiri memihak keluarga kurang mampu dan mencari anak-anak mereka yang sedang mengikuti pendidikan di SMU, SMK dan MA untuk dijaring dengan memasukkan semangat kompetisi dan harapan masa depan yang lebih menjajikan. Kepada mereka yang tertantang setiap bulannya diajak untuk mengikuti lomba dengan mengisi quis yang disediakan melalui berbagai media termasuk majalah Gemari yang dikirim ke sekolah secara cuma-cuma, surat kabar Pelita dan Suara Karya dengan harga langganan yang sangat rendah dan media lainnya. Setiap Tim Sekolah atau Kepala Sekolah setiap bulannya akan menilai dan memilih calon siswa yang dianggap unggul dan dikirim ke tim ditingkat kabupaten untuk mendapatkan penilaian.

Di wilayah Sulawesi Selatan digelar “ujian saringan” siswa unggul itu dengan syarat-syarat yang menarik. Setiap siswa yang mengikuti saringan hendaknya adalah wanita dan kalau toh tidak terdapat siswi yang memenuhi syarat baru diijinkan memilih siswa pria. Idealnya adalah karena wanita biasanya kalau orang tuanya kurang mampu akan segera di nikahkan pada usia yang sangat muda, biarpun siswi itu cukup mampu dan menonjol di kelas atau di sekolahnya. Untuk mencegah hal ini terjadi maka siswi perempuan yang menonjol diberikan kesempatan untuk mengikuti lomba ini dengan maksud bisa ditunda usia nikahnya untuk menyambung karier yang lebih tinggi.

Selain syarat wanita maka siswa yang bersangkutan diharapkan menonjol diantara teman-temannya sesama anak keluarga kurang mampu di sekolahnya dan terpilih karena mampu menjawab quis dengan baik dan mampu karena mempunyai nilai yang menonjol di kelasnya atau di sekolahnya. Beberapa Panitia Sekolah atau Tim Sekolah di Pangkep justru memberikan skor untuk mata pelajaran tertentu seperti matematika dan bahasa Inggris yang dianggap mewakili mata pelajaran pokok lainnya.

Pada bulan Maret sampai dengan bulan Juni yang lalu secara sengaja dipilih siswa-siswi kelas III agar bisa mengikuti ujian Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) perguruan tinggi negeri yang diadakan pada awal bulan Juli 2002 yang lalu. Selanjutnya untuk bulan Juli-Desember, siswa kelas I, II, dan kelas III bisa mengikuti penyaringan untuk program BBM ini.

Sekolah-sekolah di Pangkep dan daerah sekitarnya memberikan pula syarat-syarat tambahan bahwa siswi yang terpilih haruslah mempunyai prospek untuk maju dengan kemungkinan melanjutkan pendidikan pada jenjang lebih tinggi atau mempunyai kemampuan mandiri setelah tamat dari sekolahnya kelak. Siswi yang bersangkutan diharapkan mempunyai sikap dan tingkah laku yang terpuji sehingga tidak akan memalukan sekolah atau masyarakatnya andaikan kelak terpilih dalam program BBM tersebut. Semua itu diberikan skor yang mengikat sehingga mereka yang memperoleh skor tertinggi dianggap wajar dan patut terpilih mewakili sekolahnya untuk ikut “bertanding” dengan teman-taman lainnya pada tingkat kabupaten atau kota.

Pada tingkat sekolah itu pemilihan dilakukan oleh suatu Tim Sekolah yang secara langsung diawasi oleh Kepala Sekolah dan Guru Kelas masing-masing. Setiap sekolah setiap bulan diwajibkan melaporkan dua atau maksimum tiga pilihan kepada suatu Tim Kabupaten yang kemudian akan melakukan pilihan dari seluruh sekolah yang ada di kabupaten atau di wilayah kota yang bersangkutan. Dengan cara demikian setiap sekolah berlomba untuk menjagokan siswi masing-masing. Kalau siswinya beruntung mereka akan menjadi jago yang bertarung pada tingkat kota atau kabupaten.

Di tingkat Kabupaten atau Kota dibentuk suatu Tim Kota atau Tim Kabupaten yang disebut Komite Sekolah. Komite ini sekaligus mempunyai anggota wakil dari Bank Pembangunan Daerah di Sulawesi Selatan yang akan mengatur penyaluran hadiah untuk siswi yang beruntung dan menang pada tingkat kabupaten atau kota. Tim atau Komite Sekolah di tingkat kota atau kebupaten ini beranggotakan wakil-wakil dari sekolah, dinas pendidikan dasar, dinas agama, kantor BKKBN setempat serta wakil-wakil lain yang dipandang perlu.

Secara bersama-sama mereka juga menetapkan syarat-syarat bagi siswa yang bisa diikut sertakan dalam “lomba” untuk mendapatkan dukungan Bea Belajar Mandiri (BBM) dari Yayasan Damandiri. Syarat-syarat itu adalah sama seperti yang ditetapkan oleh masing-masing sekolah sehingga setiap “jago” dari sekolah dapat lolos dari syarat-syarat yang ditetapkan itu. Ada kalanya didapat bahwa penilaian yang diberikan oleh sekolah berbeda dengan penilaian dari para anggota Tim Kabupaten, sehingga anggota tim di kabupaten terpaksa melakukan kunjungan ulangan untuk bertemu dengan siswi yang dicalonkan itu dan mengadakan wawancara tambahan untuk meyakinkan bahwa yang terpilih adalah siswa yang memang disyaratkan itu.

Seperti halnya pada tingkat sekolah, pada tingkat kabupaten tim kabupaten atau tim kota sekali lagi juga mengadakan semacam “skring” dari calon-calon yang dikirim oleh setiap sekolah sehingga ada juga rasa mengeluh dari tim kabupaten kalau ternyata jago dari tim sekolah setiap sekolahnya melebihi angka dua atau tiga yang seharusnya dikirim ke tingkat kabupaten atau kota.

Setiap bulan di setiap kabupaten atau kota di Sulawesi Selatan disediakan lima paket BBM dengan nilai setiap paketnya Rp. 300.000,-. Paket BBM ini diwujudkan dalam bentuk tabungan yang disediakan oleh Bank BPD Sulawesi Selatan di semua kabupaten dan kotanya. Paket tabungan ini tidak dapat diambil begitu saja biarpun sebenarnya Bank BPD telah mempunuai sistem yang cukup canggih dengan kantor cabangnya yang ada di seluruh pelosok Sulsel. Bahkan mereka juga punya outlet yang dengan kartu identitas penabung sebenarnya tabungan itu bisa diambil langsung di outlet yang tersedia secara luas itu.

Sebagai program untuk Belajar Mandiri maka tabungan itu baru bisa diambil untuk membiayai ujian SPMB perguruan tinggi negeri atau untuk biaya hidup mandiri setelah tamat dari SMU, SMK atau MA nantinya. Pada saat itulah sistem dari Bank BPD yang sangat luas itu dapat dipergunakan oleh pemilik tabungan BBM tersebut.

Keuntungan BBM

Seperti terjadi pada siswi Rusmelani Sain yang diuraikan pada awal tulisan ini, maka setiap siswa yang akan menempuh pendidikan pada perguruan tinggi negeri dapat mempergunakan dana tabungan Rp. 300.000,- yang diterimanya itu untuk membeli formulir dan keperluan ujian lainnya. Siswa itu dapat bertindak seperti siswa yang mampu lainnya dan membelanjakan dana yang ada untuk menempuh ujian itu dengan baik. Apabila siswa yang bersangkutan diterima maka kepadanya dapat diberikan dukungan lebih lanjut sebagai mahasiswa di perguruan tinggi pilihannya.

Dukungan itu dapat dibagi dua, pertama, kepadanya dapat diberikan dukungan pembayaran seluruh biaya SPP sesuai dengan jurusan yang dipilihnya. Dukungan biaya SPP itu dievaluasi oleh fakultas masing-masing setiap tahun untuk dilanjutkan atau diputuskan oleh Yayasan Damandiri. Apabila oleh fakultasnya mahasiswa yang bersangkutan dianggap tidak layak untuk dilanjutkan pendidikannya di fakultas yang bersangkutan karena alasan akademis atau karena alasan lainnya, maka biaya SPP dari Yayasan Damandiri itu akan diputus dan tidak diberikan lagi. Setiap mahasiswa harus aktif melapor kepada Yayasan Damandiri sebagai Yayasan penjamin dana SPP tersebut.

Kedua, para pimpinan fakultas atau Rektor yang bersangkutan dapat mengirimkan permintaan kepada yayasan Supersemar di Jakarta untuk mendapatkan beasiswa dari yayasan Supersemar itu. Beasiswa dari Yayasan Supersemar itu tidak bersifat otomatis seperti halnya biaya SPP, tetapi Rektor atau Dekan dari Fakultas masing-masing harus mengusulkan kepada Pimpinan Yayasan Supersemar di Jakarta dengan menyebutkan bahwa mahasiswa yang bersangkutan telah menerima bantuan SPP dari Yayasan Damandiri karena prestasinya yang menonjol.

Dengan cara demikian diharapkan anak-anak keluarga kurang mampu akan lebih banyak terjaring dan belajar pada pendidikan yang lebih tinggi atau minimal dapat makin mandiri setelah selesai menempuh SMU, SMK atau MA dengan berhasil. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Pengamat Masalah Sosial Kemasyarakatan)-BBM-SULSEL-1082002.

Artikel lainnya
GENERASI MUDA MENGGELAR MASA DEPANNYA
MEMBURU DUKUNGAN BELAJAR SEJAK DINI
PEMBERDAYAAN DAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO
MENJARING SISWA BERPRESTASI SECARA DINI
MEMPERLUAS PEMBERDAYAAN DI NTT

  Username
  @indra.or.id
  Password
 
 
RUSMELANI SAIN MASUK FAKULTAS KEDOKTERAN
GENERASI MUDA MENGGELAR MASA DEPANNYA
MEMBURU DUKUNGAN BELAJAR SEJAK DINI
PEMBERDAYAAN DAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO
MENJARING SISWA BERPRESTASI SECARA DINI
:: Selengkapnya ::


13718